Login
Similar topics
User Yang Sedang Online
Total 0 user online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 0 Tamu :: 1 BotTidak ada
User online terbanyak adalah 12 pada Mon May 03, 2010 1:54 am
Latest topics
» Shiritori~!by Arthady Kimaru Wed Aug 03, 2011 8:23 am
» No Rules Require
by Arthady Kimaru Wed Aug 03, 2011 8:23 am
» Sketching around
by Arthady Kimaru Thu Jul 21, 2011 9:53 am
» Absence Absence XD
by Arthady Kimaru Thu Jul 21, 2011 9:52 am
» [Comment] Einsamkeit (Loneliness)
by Arthady Kimaru Thu Jul 21, 2011 9:49 am
» Let's Fangrilling!
by Arthady Kimaru Thu Jul 21, 2011 9:48 am
» Rikka here
by Arthady Kimaru Thu Jul 21, 2011 9:45 am
» Hello...Minna san~
by Arthady Kimaru Thu Jul 21, 2011 9:45 am
» [2nd Chara] Shion Runettes - 2 SMP
by Wilhelm Runettes Mon Oct 18, 2010 9:42 pm
[Main RP]Lesson 1: The exam from Headmaster
Halaman 4 dari 4 • Share •
Halaman 4 dari 4 •
1, 2, 3, 4
[Main RP]Lesson 1: The exam from Headmaster
First topic message reminder :
Pagi yang cerah di fatalite academy. di sebuah ruang kantor yang lumayan besar,seorang lelaki muda,berambut panjang dan berkacamata duduk di balik tumpukan tumpukan kerta putih banyak yang berisi tentang tugas,sekolah,city,dan lain lain
Senyum usil tertera di wajahnya. tampaknya ia sedang merencanakan , atau lebih tepat telah menemukan sebuah rencana iseng untuk semua murid-muridnya. ia memegang beberapa kertas tua yang seperti peta dengan tampang licik
"akhirnya...kutemukan juga....dengan begini...semua rencanaku akan terlaksana..."Quintz tersenyum,dan menyeringai. tertawa di ruang kantornya dengan keras(layaknya tokoh antagonis kali,ya),yang membuat para staff yang di luar ruangannya kaget dan memandang heran pintu kantor Quintz
Pagi yang cerah di fatalite academy. di sebuah ruang kantor yang lumayan besar,seorang lelaki muda,berambut panjang dan berkacamata duduk di balik tumpukan tumpukan kerta putih banyak yang berisi tentang tugas,sekolah,city,dan lain lain
Senyum usil tertera di wajahnya. tampaknya ia sedang merencanakan , atau lebih tepat telah menemukan sebuah rencana iseng untuk semua murid-muridnya. ia memegang beberapa kertas tua yang seperti peta dengan tampang licik
"akhirnya...kutemukan juga....dengan begini...semua rencanaku akan terlaksana..."Quintz tersenyum,dan menyeringai. tertawa di ruang kantornya dengan keras(layaknya tokoh antagonis kali,ya),yang membuat para staff yang di luar ruangannya kaget dan memandang heran pintu kantor Quintz
- + - + - + - + - fatalite - + - + - + - + -

Re: [Main RP]Lesson 1: The exam from Headmaster
Quintz yang sibuk menuang teh, menatap partner nya dan tersenyum.
"kau itu selalu mengatakan hal hal yang rumit ya, Will?"Quintz tersenyum lembut padanya, lalu duduk di salah satu sofa
"Silahkan diminum dulu,"katanya lembut. Sebenarnya, pria ini sedang memikirkan sesuatu. Ya, sesuatu yang akan ia rencanakan, lumayan kejam memang rencanaya. tapi melihat murid murid sekarang, ia memutuskan untuk tetap melakukan rencananya.
"Nah... aku punya tugas untuk kalian semua. dan untukmu juga, Will..."Katanya lembut
"kau itu selalu mengatakan hal hal yang rumit ya, Will?"Quintz tersenyum lembut padanya, lalu duduk di salah satu sofa
"Silahkan diminum dulu,"katanya lembut. Sebenarnya, pria ini sedang memikirkan sesuatu. Ya, sesuatu yang akan ia rencanakan, lumayan kejam memang rencanaya. tapi melihat murid murid sekarang, ia memutuskan untuk tetap melakukan rencananya.
"Nah... aku punya tugas untuk kalian semua. dan untukmu juga, Will..."Katanya lembut
- + - + - + - + - fatalite - + - + - + - + -

Re: [Main RP]Lesson 1: The exam from Headmaster
Masih terdiam, ia duduk disofa tepat sebelah Quintz. Memangku cangkirnya itu dan menyeruput tehnya. Masam, tapi enak rasanya. Hanya bisa menatapi isi gelasnya yang tinggal setengah. Masih banyak, gumamnya dalam hati. Warna merah yang cukup ranum untuk secangkir teh mawar ini. Genangan air tehnya memantulkan wajahnya yang sedang melamun.
"Pembunuh! Kau pembunuh!"
"Will! Hentikan semua ini!"
"Tak akan kumaafkan kau, Wilhelm!"
Bergidik, agak gemetar. Ia menarik nafas panjang dan membuangnya. Berusaha mengendalikan dirinya sendiri. Rasanya telinganya begitu panas mendengar hal itu. Entah mengapa perasaannya jadi galau. Tak menentu. Kepalanya terasa pusing. Will sampai tidak menyadari apa yang sedang dikatakan Quintz, tak terdengar.
Hah?
Apa yang tadi dikatakan? Mengapa tak terdengar? Ah sudahlah. Kini Will menyeruput tehnya lagi. Enak juga, tapi membuat lidahnya terasa kering. Rasanya yang masam itu bagaikan benang tak terlihat yang mencekiknya. Padahal ini adalah teh favoritnya. Mengapa terasa berbeda?
"Eh? Apanya?" agak sontak kaget, tehnya sampai tumpah sedikit mengenai celana panjangnya. Cukup panas, membuatnya agak mengernyit. Segera meletakan cangkirnya diatas meja, merogoh saku jasnya untuk mengambil sapu tangan. Dilapnya celananya itu dengan saputangan berwarna putih dan terdapat inisial W pada salah satu sisi sapu tangan. "Hehehe, aku ceroboh sekali ya." cengirnya.
Padahal sudah jelas ada yang tak beres pada dirinya. Ada apa denganmu, Wilhelm?
"Pembunuh! Kau pembunuh!"
"Will! Hentikan semua ini!"
"Tak akan kumaafkan kau, Wilhelm!"
Bergidik, agak gemetar. Ia menarik nafas panjang dan membuangnya. Berusaha mengendalikan dirinya sendiri. Rasanya telinganya begitu panas mendengar hal itu. Entah mengapa perasaannya jadi galau. Tak menentu. Kepalanya terasa pusing. Will sampai tidak menyadari apa yang sedang dikatakan Quintz, tak terdengar.
"kau itu selalu mengatakan hal hal yang rumit ya, Will?"
Hah?
Apa yang tadi dikatakan? Mengapa tak terdengar? Ah sudahlah. Kini Will menyeruput tehnya lagi. Enak juga, tapi membuat lidahnya terasa kering. Rasanya yang masam itu bagaikan benang tak terlihat yang mencekiknya. Padahal ini adalah teh favoritnya. Mengapa terasa berbeda?
"Dan untukmu juga, Will..."
"Eh? Apanya?" agak sontak kaget, tehnya sampai tumpah sedikit mengenai celana panjangnya. Cukup panas, membuatnya agak mengernyit. Segera meletakan cangkirnya diatas meja, merogoh saku jasnya untuk mengambil sapu tangan. Dilapnya celananya itu dengan saputangan berwarna putih dan terdapat inisial W pada salah satu sisi sapu tangan. "Hehehe, aku ceroboh sekali ya." cengirnya.
Padahal sudah jelas ada yang tak beres pada dirinya. Ada apa denganmu, Wilhelm?
- + - + - + - + - fatalite - + - + - + - + -

Like the Crimson Rose in the Hell...
Wilhelm Runettes
Re: [Main RP]Lesson 1: The exam from Headmaster
"....." Terdiam, lalu menghela nafasnya. Ia berjalan menuju meja kerja, mengambil brosur brosur yang tergeletak disana
"ini tugas untuk kalian"katanya lembut, meletakkan di meja, dan tersenyum lembut.
"Will, kau sedang banyak pikiran ya?"tanya Quintz lembut, menatapnya khawatir. Dibelainya rambut Will lembut
"jangan banyak pikiran ya~"tersenyum senang, lalu kembali serius
"Ini brosur tentang event yang akan kubuat. Survival game"ia mengedipkan mata penuh arti
"ini tugas untuk kalian"katanya lembut, meletakkan di meja, dan tersenyum lembut.
"Will, kau sedang banyak pikiran ya?"tanya Quintz lembut, menatapnya khawatir. Dibelainya rambut Will lembut
"jangan banyak pikiran ya~"tersenyum senang, lalu kembali serius
"Ini brosur tentang event yang akan kubuat. Survival game"ia mengedipkan mata penuh arti
- + - + - + - + - fatalite - + - + - + - + -

Re: [Main RP]Lesson 1: The exam from Headmaster
"Hee... Kertas registrasi?"
"Sepertinya kau terlalu penat hingga melupakan hal penting, Quintz.
Apa harus aku yang turun tangan?"
"Sepertinya kau terlalu penat hingga melupakan hal penting, Quintz.
Apa harus aku yang turun tangan?"
Siapa orang ini?! Meski tubuhnya masih bergeming, alisnya sudah mulai berkerut saat orang tersebut mengambil kertas ditangannya.
"Kalau tidak diurus, nanti ada yang marah, lho~"
Oh-ow, alisnya terlihat semakin berkerut tak senang.
"Aku ingat! Registrasi.. Ah, Will. Pagi"
Seperti yang sudah kupikirkan, dia ini idiot. Tidak adakah kamus yang lebih sopan didalam diri seorang Arthady?
"Sejak kapan kau ada di sini?"
Tanpa berbalik untuk melihat wajahnya pun, Arthady sudah tahu kalau kalimatnya ditujukan untuk dirinya. But, who cares sampai lelaki berambut pirang itu lebih dahulu menjawab pertanyaannya.
"Maaf ya, aku baru ingat registrasi apa~"
"......" Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya karena ia memang tak berniat untuk menjawab salah satunya.
"Kau orang pertama yang memasukkan registrasi ini,
lumayan pintar juga.. padahal brosur belum kesebar..
apa ada yang tertiup angin ya~?"
"Atmosfer gak enak. Bagaimana kalau duduk dulu, sambil minum teh?"
lumayan pintar juga.. padahal brosur belum kesebar..
apa ada yang tertiup angin ya~?"
"Atmosfer gak enak. Bagaimana kalau duduk dulu, sambil minum teh?"
"Ha?" seluruh tubuhnya berbalik seketika itu untuk menatap tajam sang Kepala Sekolah. Tak percaya dengan kalimat yang baru saja dilontarkan olehnya. Registrasi apalagi??! Teriaknya tak percaya sekaligus kesal dalam hati.
"Terimakasih atas jamuannya, Quintz."
Lagi-lagi Arthady bergeming seperti orang bodoh menatap kedua lelaki yang menurutnya 'tua' itu bisa-bisanya minum teh disaat begini.
Inhale. Exhale. Rasanya seperti sudah lama tak bernafas jika sudah berhadapan dengan sang-Kepala-Sekolah-yang-dimuliakan-orang-banyak itu, ditambah pula dengan manusia 'abstrak' yang baru datang tersebut.
Inhale. Exhale. Dipikir-pikir, buat apa aku membuang-buang energi untuk orang ini? Sangat pintar memang caranya untuk menenangkan diri. Hanya berdiri mematung, bernafas tenang dan tak lama his Poker face will return.
"Rosella... Hmm..."
"Suatu hari nanti, kau akan menemukan maknanya..."
"Suatu hari nanti, kau akan menemukan maknanya..."
"............" Pada siapa dia berbicara?
"kau itu selalu mengatakan hal hal yang rumit ya, Will?"
"Silahkan diminum dulu,"
"Silahkan diminum dulu,"
Definitely not me.
"Nah... aku punya tugas untuk kalian semua. dan untukmu juga, Will..."
"Hah?!!" Baru kali ini Arthady setengah berteriak, seperti memamerkan suara berat khas lelaki miliknya. Gagal sudah usahanya untuk menenangkan diri. Reaksinya itu hampir bersamaan dengan ucapan The Blonde Man, begitu julukan yang dibuatnya.
"Eh? Apanya?"
Seperti itu ia berujar dan hanya berselang beberapa menit, teh ditangan pria tersebut hampir terjatuh. "Hehehe, aku ceroboh sekali ya." ucap pria itu. Sepertinya kelakuan tuan-tuan ini memang sinting dari sananya.
"ini tugas untuk kalian"
What?? Siapa yang mau disuruh olehnya?!! Disuruh adalah menjadi budak, itu prinsipnya. "Aku nggak mau" ucapnya datar namun tatapannya berubah tajam, sama seperti ketika mereka pertama bertemu. Takdirkah? Oh just shut the f*ck up.
"Will, kau sedang banyak pikiran ya?"
"jangan banyak pikiran ya~"
"jangan banyak pikiran ya~"
Sekarang apa? Adegan homo yang mau dipertontonkannya pada orang-orang? Oh-so not interested.
"Ini brosur tentang event yang akan kubuat. Survival game"
"Aku tidak pernah setuju untuk jadi pesuruhmu kan?" Ucapan tajam terlontar dari mulut Arthady. I guess there's no such thing as peace with teacher for him.
Terakhir diubah oleh Arthady Kimaru tanggal Thu Sep 09, 2010 6:29 pm, total 1 kali diubah
Re: [Main RP]Lesson 1: The exam from Headmaster
Quintz melirik sang murid. Terdiam beberapa saat, tampak sedang berpikir. Lalu tersenyum penuh arti.
"Berarti kau tak usah naik kelas saja mau? ini seperti pengganti ujian semester"kata Quintz riang, menunggu reaksi dari sang murid yang paling nakal saat ini
"Berarti kau tak usah naik kelas saja mau? ini seperti pengganti ujian semester"kata Quintz riang, menunggu reaksi dari sang murid yang paling nakal saat ini
- + - + - + - + - fatalite - + - + - + - + -

Re: [Main RP]Lesson 1: The exam from Headmaster
Will mengernyit ketika Quintz mulai membelai surai emasnya, terdiam karena heran. Tak lama ia terkekeh, menarik pakaian Quintz sehingga kepala mereka menjadi dekat jaraknya. Mungkin orang akan mengira bahwa sesuatu yang menarik akan terjadi. Menyeringai, ia menyentil dahi pemuda itu kuat-kuat.
"Jangan melimpahkan kegilaanmu padaku, Quntz." terkekeh pelan. Senang sih, senang. Tapi tetap saja memalukan apalagi hal itu terjadi didepan murid-murid mereka. Melepaskan Quintz, ia menyeruput tehnya dengan tenang tanpa ada rasa bersalah. SEDIKITPUN.
Berhenti menyeruput tehnya. Apa tadi yang dikatakan? Survival Game? Wah, hal ini pasti akan jadi yang paling menyenangkan. Tapi, ia merasa jadi tidak berguna karena Quintz tak pernah bilang apa-apa mengenai hal ini. Sebagai Wakil Kepala Sekolah seakan-akan tak terlalu berperan dalam hal yang seharusnya dikerjakan bersama sang Kepala Sekolah. Meletakkan cangkir dan meraih brosur tersebut. Membacanya seksama.
Haah, lagi-lagi sebuah keributan kecil terjadi. Will hanya diam saja, memberi kesempatan bagi kawannya untuk bereaksi lebih dahulu. ia sejenak melirik pemuda nakal dan galak itu seakan-akan memantaunya.
"Silahkan saja jika tak mau patuh." ucapnya tenang, ia meletakkan kembali secarik kertas brosur yang sempat dibaca olehnya. "Tak akan jadi masalah, toh sebagai Orang tertinggi kedua setelah Quintz, aku bisa saja membuatmu tak naik kelas. Apalagi mengeluarkanmu." Ia tersenyum penuh arti, entah apakah amarahnya sudah tersulut sedaritadi. Siapa yang tahu.
"Kalau aku jadi kau, akan kutarik ucapanku itu."
Menantang, eh? Siapa peduli? Kekuatannya pun cukup tinggi. Tibggal menjentikkan jari saja, maka mawar yang ada didekatnya akan berubah menjadi senjata mematikan. Ia menyeruput tehnya kembali. Ironis sekali, eh?
"Jangan melimpahkan kegilaanmu padaku, Quntz." terkekeh pelan. Senang sih, senang. Tapi tetap saja memalukan apalagi hal itu terjadi didepan murid-murid mereka. Melepaskan Quintz, ia menyeruput tehnya dengan tenang tanpa ada rasa bersalah. SEDIKITPUN.
"Ini brosur tentang event yang akan kubuat. Survival game"
Berhenti menyeruput tehnya. Apa tadi yang dikatakan? Survival Game? Wah, hal ini pasti akan jadi yang paling menyenangkan. Tapi, ia merasa jadi tidak berguna karena Quintz tak pernah bilang apa-apa mengenai hal ini. Sebagai Wakil Kepala Sekolah seakan-akan tak terlalu berperan dalam hal yang seharusnya dikerjakan bersama sang Kepala Sekolah. Meletakkan cangkir dan meraih brosur tersebut. Membacanya seksama.
"Aku tidak pernah setuju untuk jadi pesuruhmu kan?"
Haah, lagi-lagi sebuah keributan kecil terjadi. Will hanya diam saja, memberi kesempatan bagi kawannya untuk bereaksi lebih dahulu. ia sejenak melirik pemuda nakal dan galak itu seakan-akan memantaunya.
"Berarti kau tak usah naik kelas saja mau? ini seperti pengganti ujian semester"
"Silahkan saja jika tak mau patuh." ucapnya tenang, ia meletakkan kembali secarik kertas brosur yang sempat dibaca olehnya. "Tak akan jadi masalah, toh sebagai Orang tertinggi kedua setelah Quintz, aku bisa saja membuatmu tak naik kelas. Apalagi mengeluarkanmu." Ia tersenyum penuh arti, entah apakah amarahnya sudah tersulut sedaritadi. Siapa yang tahu.
"Kalau aku jadi kau, akan kutarik ucapanku itu."
Menantang, eh? Siapa peduli? Kekuatannya pun cukup tinggi. Tibggal menjentikkan jari saja, maka mawar yang ada didekatnya akan berubah menjadi senjata mematikan. Ia menyeruput tehnya kembali. Ironis sekali, eh?
- + - + - + - + - fatalite - + - + - + - + -

Like the Crimson Rose in the Hell...
Wilhelm Runettes
Re: [Main RP]Lesson 1: The exam from Headmaster
Matanya mendelik diikuti tubuhnya yang bergidik sesaat saat pria berambut pirang itu mendekatkan wajahnya pada objek kemarahannya tersebut.
Great! Apa hanya aku yang berotak normal dalam pembicaraan ini?! Baru kali ini dia merasa salah tempat karena sudah mengganggu orang-orang paling tak waras di sekolah ini, menurut versinya.
Terdiam cukup lama sepertinya memberi kesempatan pada kedua petinggi sekolah barunya ini untuk angkat bicara.
Mengancam, eh?
".........." Matanya berkilat marah sekilas pada si lelaki pirang. Siapa dia? Apa haknya disini?! Inhale. Exhale. Pikirnya saraya menutup mata untuk kembali menenangkan diri. Ahh... untuk apa aku marah pada orang seperti mereka? Toh lelaki tua itu yang memaksaku bersekolah disini.
"Siapa bilang aku akan menarik perkataanku?" Sukses menenangkan diri, seringai seram akhirnya tampak diwajahnya yang berkulit pucat tak berekspresi itu "Mau mengeluarkanku? Silahkan saja." Itulah ucapan penutup darinya untuk hari ini seraya meletakkan kertas ditangannya yang sudah lusuh ke meja minum teh petinggi sekolah barunya itu tanpa suara, kemudian kembali melangkah menuju satu-satunya pintu keluar dari sana. Lagipula, ia merasa tak ada untungnya berada disana lebih lama, menahan emosi. Toh sama sekali tak ada niatnya untuk membaca brosur yang wajib dibaca oleh setiap murid tersebut.
What're you gonna do?? Muahahaha *smirking gede-gede *ditampar admin gpp deh ya.. udah mau vakum sih ehehehe *plakplakplak *puppet master langsung dibanned <-- Natural talent: suka mempermainkan chara sendiri sekalian chara-chara yang laen xDD *disumpel
Sekali lagi, semua RP-an saya disini hanya akting semata -_- Apa ada yg marah? Kalo ada, silahkan flame saya langsung -___-
"Jangan melimpahkan kegilaanmu padaku, Quintz."
Great! Apa hanya aku yang berotak normal dalam pembicaraan ini?! Baru kali ini dia merasa salah tempat karena sudah mengganggu orang-orang paling tak waras di sekolah ini, menurut versinya.
Terdiam cukup lama sepertinya memberi kesempatan pada kedua petinggi sekolah barunya ini untuk angkat bicara.
"Berarti kau tak usah naik kelas saja mau? ini seperti pengganti ujian semester"
Mengancam, eh?
"Silahkan saja jika tak mau patuh."
"Tak akan jadi masalah,toh sebagai Orang tertinggi kedua setelah Quintz,
aku bisa saja membuatmu tak naik kelas. Apalagi mengeluarkanmu."
"Tak akan jadi masalah,toh sebagai Orang tertinggi kedua setelah Quintz,
aku bisa saja membuatmu tak naik kelas. Apalagi mengeluarkanmu."
".........." Matanya berkilat marah sekilas pada si lelaki pirang. Siapa dia? Apa haknya disini?! Inhale. Exhale. Pikirnya saraya menutup mata untuk kembali menenangkan diri. Ahh... untuk apa aku marah pada orang seperti mereka? Toh lelaki tua itu yang memaksaku bersekolah disini.
"Kalau aku jadi kau, akan kutarik ucapanku itu."
"Siapa bilang aku akan menarik perkataanku?" Sukses menenangkan diri, seringai seram akhirnya tampak diwajahnya yang berkulit pucat tak berekspresi itu "Mau mengeluarkanku? Silahkan saja." Itulah ucapan penutup darinya untuk hari ini seraya meletakkan kertas ditangannya yang sudah lusuh ke meja minum teh petinggi sekolah barunya itu tanpa suara, kemudian kembali melangkah menuju satu-satunya pintu keluar dari sana. Lagipula, ia merasa tak ada untungnya berada disana lebih lama, menahan emosi. Toh sama sekali tak ada niatnya untuk membaca brosur yang wajib dibaca oleh setiap murid tersebut.
What're you gonna do?? Muahahaha *smirking gede-gede *ditampar admin gpp deh ya.. udah mau vakum sih ehehehe *plakplakplak *puppet master langsung dibanned <-- Natural talent: suka mempermainkan chara sendiri sekalian chara-chara yang laen xDD *disumpel
Sekali lagi, semua RP-an saya disini hanya akting semata -_- Apa ada yg marah? Kalo ada, silahkan flame saya langsung -___-
Halaman 4 dari 4 •
1, 2, 3, 4
Similar topics» Main Sambung Kata yuuuuk.....
» Sini Semua Gabung Main Rf Lytod
» main pake psikologi aje om :p
» Nie Yg Baru 1 hit Sg Kosong Just Public all main
» Exam Spesial Jounin became Dummy Mission!
» Sini Semua Gabung Main Rf Lytod
» main pake psikologi aje om :p
» Nie Yg Baru 1 hit Sg Kosong Just Public all main
» Exam Spesial Jounin became Dummy Mission!
Halaman 4 dari 4
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik




